5 Kutukan Timnas yang Buat Sepak Bola Indonesia Urung Mendapatkan Kejayaan hingga Sekarang

5 Kutukan Timnas yang Buat Sepak Bola Indonesia Urung Mendapatkan Kejayaan hingga Sekarang

Beberapa bulan ke depan akan banyak eventolahraga besar diselenggarakan di Indonesia, dari mulai ASIA Games, Piala Asia sampai Piala AFF. Seperti yang sudah-sudah target juara juga selalu dibebankan oleh PSSI kepada para punggawa merah putih. Hal yang pastinya bukan pekerjaan mudah untuk mereka dapat wujudkannya. Tercatat hanya Timnas U-19 lah yang mampu bawa juara di kompetisi besar.

Lantaran hal inilah banyak orang percaya bahwa Timnas terkena kutukan. Meski belum pernah dilakukan penelitian akan hal ini. Namun beberapa statistik dan pertandingan telah menunjukkan dengan jelas kesialan Timnas ini. Sering kalah pada partai puncak, meski bermain bagus pada babak penyisihan juga selalu jadi mimpi buruk tim merah putih. Lalu seperti apakah kutukan yang menimpa Timnas tersebut? Simak ulasannya berikut.

Menjadi langganan kalah di partai Final kompetisi Asia Tenggara

Menjadi juara 2

Sebagai tim sepak bola, Indonesia memiliki banyak sekali kehebatan yang dapat menjadikannya berjaya. Namun sayang beberapa kali sampai partai  final negara kita selalu gagal menang. Padahal Timnas selalu mampu tampil bagus saat berada babak penyisihan grup. Rekor selalu menjadi peringkat kedua untuk timnas senior ini sudah bertahan lebih dari 25 tahun. Bahkan tak jarang mereka dibantai habis-habisan pada partai final. Banyak pengamat mengatakan hasil  ini dikarenakan mental buruk pemain Timnas.

Kutukan Mursyid Effendi yang terus hantui Timnas

Mursyid Effendi

Mursyid Effendi tidaklah dapat disalahkan dari hasil buruk yang sering didapatkan Timnas. Meskipun dirinya pernah berujar menyangkut kegagalan tim garuda ini. Dilansir dari laman Kompas, dirinya pernah mengatakan bila tim merah putih tidak akan pernah juara lantaran mafia bola tidak ditangkap. Seruan keras mata pemain Persebaya ini dikarenakan dirinya pernah jadi korban dari pengaturan skor. Bahkan Mursyid harus menerima larangan beraktivitas di lapangan bola selama tiga tahun. Hingga sekarang ucapan Mursyid terbukti dengan selalu gagalnya Timnas meraih gelar juara.

Nenek moyang yang dikutuk, Timnas terkenak imbasnya

Suku Baduy

Jauh sebelum sumpah serapah Mursid Efendi ternyata sejak dahulu Timnas sudah diramalkan akan apes. Hal ini lantaran nenek moyang suku Baduy yang ada di Indonesia mendapatkan kutukan. Dilansir dari Liputan 6 menurut mereka kutukan tersebut berasal dari peristiwa kematian sahabat nabi. Saat itu kepala saudara nabi tersebut dipenggal dan dijadikan untuk bermain sepak bola. Setelah kejadian tersebut semua orang yang melakukan aksi keji itu mendapatkan kukutan tidak mampu berjaya. Apesnya orang-orang yang mendapatkan sumpah menakutkan itu adalah orang suku Baduy. Oleh sebab itu ditenggarai Timnas juga menerima dampaknya dengan sulit untuk juara.

Ucapan ketua umum PSSI pertama kini jadi kenyataan

Kutukan Soeratin

Ir Soeratin menjadi salah satu orang Indonesia yang memprakarsai berdirinya PSSI. Tanpa jasa orang pernah bekerja untuk Belanda ini sepak bola Indonesia tidak akan pernah bisa seperti sekarang. Meski jasanya kerap dilupakan tapi ucapannya tentang masa depan Timnas pastinya tidak pernah terlupa. Dilansir laman Kompas, Soeratin pernah berujar apabila Timnas akan terus alami keributan. Layaknya kutukan, apa yang dikatakan Pahlawan asal Bandung ini ternyata benar adanya. Seperti yang kita ketahui beberapa kali orang di PSSI harus berseteru lantaran konflik kepentingan. Bahkan berkat kekacauan ini sepak bola Indonesia terus alami penurunan.

Kutukan Empu Gandring yang terbukti nyata untuk PSSI

Empu Gandring

Saling bunuh, sikut dan aroma kebencian ditebar, begitulah kutukan Empu Gandring yang diberikan untuk Indonesia. Meski tidak ada hubungannya dengan sepak bola tapi apabila melihat kekacauan PSSI tahun 2011, sumpah ini memiliki kesamaan. Saat itu demi untuk mendapatkan jabatan ketua umum, beberapa orang harus saling sikut. Hal inilah menjadikan sepak bola tanah air jatuh dititik nadir. Bahkan keadaan ini menjadikan rangking Timnas turun drastis. Mungkin saat ini sepak bola sudah mulai lebih baik, tapi dampak dari hal tersebut tetap ada, berupa ada sebagian kalangan ingin kembali menduduki jabatan ketua PSSI dengan cara curang.

Beberapa ulasan di atas memang sering dialami oleh sepak bola Indonesia. Tapi bukanlah sebuah acuan yang menjadikan kegagalan Timnas selama ini. Seperti yang kita ketahui kutukan hanya ucapan yang tidaklah terbukti kebenarannya. Untuk melihat Indonesia mampu berjaya diperlukan kejujuran dan kerja keras dalam mengembangkan olahraga ini.

Artikel Asli
Sumber: Boombastis.com