Tak Mau Disalahkan Sendiri, Facebook Seret Twitter dan Google

Tak Mau Disalahkan Sendiri, Facebook Seret Twitter dan Google

The Guardian

Los Angeles, IDN Times - Facebook tampak tidak ikhlas dianggap sebagai satu-satunya pihak yang bisa membaca dan mengoleksi data pengguna internet. David Baser, Direktur Manajemen Produk Facebook, menulis dalam sebuah blog bahwa platform lain juga melakukan apa yang dilakukan pihaknya.

1. Baser menyeret Twitter, Google serta Pinterest

unsplash.com/Rohit Tandon

Salah satu pertanyaan anggota Kongres kepada Mark Zuckerberg adalah apakah Facebook masih bisa mendapatkan informasi pengguna meski ia tak sedang log in di platform tersebut. Baser menulis, "Saat kamu mengunjungi sebuah situs atau aplikasi yang menggunakan layanan kami, kami menerima informasi meski kamu sudah log out atau tak memakai akun Facebook."

"Twitter, Pinterest dan LinkedIn punya tombol Like dan Share serupa untuk membantu orang membagikan apa saja di layanan mereka," lanjutnya. Baser kemudian mencontohkan bagaimana masing-masing platform beroperasi seperti Facebook dalam mendapatkan data pengguna.

"Google punya layanan analytics populer. Dan Amazon, Google serta Twitter menawarkan fitur log in. Perusahaan-perusahaan ini-dan banyak lainnya-juga menawarkan layanan iklan. Faktanya, mayoritas situs dan aplikasi mengirim informasi sama ke sejumlah perusahaan setiap kali kamu mengujunginya."

2. Informasi yang diterima YouTube bisa jadi sama dengan yang diperoleh Facebook

ANTARA FOTO/REUTERS/Leah Millis

Baser menjelaskan bahwa browser yang dipakai pengguna, baik Chrome maupun Firefox, akan mengirimkan informasi kepada situs yang dikunjungi. Kemudian, situs tersebut juga akan menerima informasi terkait browser serta pengguna.

Ia mencontohkan YouTube. "Saat kamu menonton sebuah video YouTbe di situs yang bukan YouTube, situs itu memberitahu browser untuk meminta video dari YouTube. YouTube kemudian mengirimkannya kepadamu," tulis Baser.

3. Peneliti di Amerika Serikat temukan iklan di Facebook yang berisi pesan politik saat pilpres 2016

pocketmeta.com

Bagaimanapun penjelasan Baser, tidak bisa dipungkiri bahwa publik masih menyoroti peran Facebook, terutama ketika pilpres 2016. Sebuah penelitian oleh University of Wisconsin-Madison yang diterbitkan pada Senin (16/4) menyebutkan 122 grup yang membeli iklan di Facebook "mencurigakan".

Dilansir dari TIME, kepala peneliti Young Mie Kim mengatakan, seperempat iklan di Facebook menyebutkan nama kandidat yaitu Hillary Clinton dan Donald Trump. Misalnya, pernyataan seksis Trump dan pemakaian server pribadi oleh Clinton ketika ia menjadi diplomat nomor satu Amerika Serikat.

Namun, kata Kim, mayoritas iklan tak menyebut kandidat, melainkan isu-isu kontroversial seperti kepemilikan senjata dan aborsi. Kim dan timnya juga menemukan iklan tentang imigrasi ditargetkan secara tidak proporsional kepada pemilih kulit putih.

Salah satu iklan mengklaim 300.000 veteran meninggal saat menanti perawatan, sedangkan imigran ilegal menerima layanan kesehatan yang didanai oleh pajak warga Amerika Serikat. Iklan lain menyebut Clinton memusuhi agama, termasuk Katolik.

Artikel Asli
Sumber: IDN Times