Ternyata Bahasa Inggris Bukan Bahasa Resmi Amerika Serikat, Ini Buktinya…

Ternyata Bahasa Inggris Bukan Bahasa Resmi Amerika Serikat, Ini Buktinya…

Suasana Time Square Kota New York (iStockphoto)

Liputan6.com, Washington DC - Aaron Schlossberg, seorang pengacara di New York, menjadi sosok yang viral di dunia maya pada pekan lalu, setelah ia tertangkap kamera memarahi staf sebuah restoran yang melayaninya dalam bahasa Spanyol.

Insiden di atas menjadi pemberitaan di berbagai media Amerika Serikat (AS) karena satu hal, yakni undang-undang federal tidak sedikitpun menyinggung bahwa "warga harus berbicara dalam bahasa Inggris".

Dikutip dari CNN pada Senin (21/5/2018), banyak negara multibahasa mempromosikan bahasa resmi, tetapi AS tidak pernah melakukannya meski bahasa Inggris menjadi begitu dominan di sana. Faktanya, Negeri Paman Sam tidak memiliki bahasa resmi hingga saat ini.

"Para Bapak Bangsa tidak merasa perlu untuk mengumumkannya (bahasa resmi)," ujar Dr Wayne Wright, seorang profesor bahasa dan literatur di Purdue University.

"Bahasa Inggris adalah bahasa yang dominan di Amerika Serikat pada waktu itu, sehingga benar-benar tidak perlu meresmikannya sebagai bahasa resmi. Dan mereka (Bapak Bangsa) tidak ingin menyinggung perasaan sesama orang Amerika (dari beragam latar bahasa) yang membantu memperjuangkan kemerdekaan," lanjut Dr Wayne menjelaskan.

Ditambahkan oleh Dr Wayne, orang-orang di Amerika Utara telah berbicara dalam bahasa lain selain bahasa Inggris, sejak sebelum berdirinya Republik Federal Amerika Serikat.

Faktanya, bahasa umum yang digunakan di 13 koloni Inggris di AS kala itu termasuk bahasa Belanda, Prancis dan Jerman, serta beberapa bahasa yang dituturkan oleh penduduk asli Amerika.

Dr Wayne menjelaskan bahwa mencoba memaksa orang di AS untuk berbicara bahasa Inggris bukanlah hal baru.

Orang Afrika yang diperbudak dilarang menggunakan bahasa asli mereka (dan pada saat yang sama dilarang belajar membaca dan menulis bahasa Inggris), karena para pemilik budak khawatir mereka akan menghasut pemberontakan.

Anak-anak asli Amerika kala itu dipaksa untuk menghadiri sekolah asrama, di mana mereka dihukum karena berbicara dalam bahasa mereka sendiri.

Meski begitu, secara de facto, bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama di Amerika Serikat karena digunakan di proses pengadilan dan kontrak bisnis.

Atas dasar hal tersebut, beberapa kali bahasa Inggris diupayakan menjadi bahasa resmi Negeri Paman Sam. Ditilik dari sejarah, upaya terkait pertama kali dilakukan oleh Senator AS S.I. Hayakawa dari California, dalam bentuk amandemen pada tahun 1981, namun gagal disetujui oleh DPR setempat.

Sejak itu, anggota parlemen lainnya telah memperkenalkan versi serupa dari amandemen itu, tetapi selalu tidak berhasil.

Senat mencoba lagi pada 2006, dan berhasil melewati amandemen ke RUU imigrasi komprehensif, yang berpotensi menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Namun, lagi-lagi, RUU itu gagal menembus DPR Amerika Serikat.

 

 

 

Diskriminasi Berdasarkan Bahasa

Bendera Amerika Serikat (AS) dikibarkan di tempat tinggal veteran yang bernama Kendrick Bailey di Los Angeles, California (10/11). Kendrick Bailey merupakan veteran AS yang pernah bertugas di Vietnam. (AFP Photo/Frederic J. Brown)

Sementara itu, meski upaya menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi telah gagal secara nasional, namun beberapa negara bagian berhasil melakukannya.

California, Massachusetts, dan Arizona, pada titik tertentu dalam 20 tahun terakhir, menerapkan undang-undang yang menghapus program pendidikan dwibahasa, dan menggantikannya dengan program imersi bahasa Inggris saja.

Undang-undang mengamanatkan bahwa sebagian besar sekolah umum mengajarkan siswa dengan bahasa Inggris, daripada mengizinkan mereka untuk mengajar siswa dalam bahasa asli mereka, seperti yang dilakukan banyak sekolah selama beberapa dekade.

Hukum tersebut berlaku di California selama hampir 20 tahun, sebelum dicabut pada 2016.

Adapun di Massachusetts, kebijakan tersebut diberlakukan selama sekitar 15 tahun, hingga kemudian undang-undang baru secara efektif mencabutnya pada 2017.

Sementara di negara bagian Arizona, hukum di atas masih berlaku.

Dr Beatriz Arias, seorang ilmuwan senior di Pusat Linguistik Terapan, mengatakan aturan yang berlaku di negara bagian Arizona mendiskriminasi orang berdasarkan bahasa yang mereka gunakan, dan bahasa apa yang digunakan seseorang kerap dijadikan indikator ras.

Ditambahkan oleh Dr Arias, meskipun AS semakin menjadi multibahasa, bahasa Inggris diyakini tidak akan lenyap dalam waktu dekat.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa bahasa asli para imigran kemungkinan akan mati, karena mereka terpaksa menggunakan bahasa Inggris untuk berasimilasi.

"Ada kemungkinan besar bahwa generasi selanjutnya tidak lagi menuturkan bahasa asli orang tua atau kakek-nenek mereka," ujar Dr Arias.

Artikel Asli
Sumber: Liputan6.com