Cabut Status Darurat, Ini Kunci Keberhasilan Jepang Lawan Corona Tanpa Lockdown

Cabut Status Darurat, Ini Kunci Keberhasilan Jepang Lawan Corona Tanpa Lockdown

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers di Tokyo, Jepang. Foto: Akio Kon/Pool via REUTERS

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe baru saja mencabut status darurat virus corna di seluruh wilayah, Senin (25/5). Dengan adanya keputusan tersebut, pemerintah Jepang akan mulai membuka kembali perekonomian secara bertahap.

Diketahui sebelumnya, Jepang menetapkan status darurat corona pada awal April lalu. Keputusan itu ditetapkan setelah kasus COVID-19 di sana mencapai 700-an kasus dalam sehari.

Terkait hal itu, Shinzo Abe pun mengambil langkah cepat mendesak gubernur-gubernur agar meminta warganya tetap di rumah dan menutup bisnis sementara. Kendati demikian, imbauan itu tidaklah seketat yang dibayangkan. Bahkan, imbauan itu tidak disertai hukuman bagi pelanggar.

Jepang Negara Maju dengan Kasus Corona Relatif Rendah

Warga mengenakan masker saat jam sibuk di Stasiun Shinagawa, Tokyo, Jepang, Selasa (26/5). Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Dibanding negara-negara di Eropa, Amerika, dan Brasil, Jepang merupakan negara maju dengan angka kasus COVID-19 yang relatif lebih rendah. Padahal, banyak yang justru khawatir dengan padatnya kereta komuter di negara berjuluk Matahari Terbit itu akan menjadi tempat bagus penularan corona.

Loading...

Tak hanya itu, di Jepang juga banyak penduduk dengan usia lanjut yang disebut lebih rentan terinfeksi. Oleh karena itu, keputusan pemerintah yang tidak mengambil langkah lockdown membuat banyak orang yang kemudian memberikan kritik pedas.

Lalu, Apa Kunci Keberhasilan Jepang Lawan Corona Tanpa Lockdown?

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers di Tokyo, Jepang. Foto: Akio Kon/Pool via REUTERS

Meski tanpa lockdown, Jepang bisa dibilang sukses dalam memerangi wabah virus corona. Terbukti, kurva kasus di sana kini sudah kembali rata. Padahal dalam upaya menekan persebarannya tidak seketat di sejumlah negara di dunia.

Alih-alih melakukan tes massal seperti yang dilakukan Korea Selatan, Jepang justru mengambil langkah dengan melacak warga yang kontak dengan pasien positif. Artinya, mereka hanya melakukan tes terhadap warga yang terbukti pernah kontak dengan pasien positif.

Sementara langkah lain, pemerintah hanya meminta warganya agar tetap di rumah dan mengikuti protokol kesehatan. Namun, yang menjadikan langkah ini menemukan hasil yang sangat baik lantaran didukung dengan adanya kesadaran penduduk terhadap imbauan pemerintah.

Didukung Kebiasaan Sehari-hari Penduduk Jepang

Budaya membungkuk atau ojigi di Jepang. Foto: flickr

Terlepas dari kebijakan pemerintah, keberhasilan Jepang menekan angka kasus corona juga didukung dengan kebiasaan sehari-hari penduduknya. Masyarakat di sana dikenal begitu mengedepankan kebersihan. Bahkan, mereka sudah terbiasa pakai masker saat keluar rumah.

Kebiasaan lain yang juga sangat mendukung yaitu jarang adanya jabat tangan. Sebab, di sana lebih dikenal dengan adanya budaya membungkuk atau ojigi sebagai pengganti jabat tangan.

Namun, kebijakan dan kesadaran masyarakat Jepang dalam upaya menekan angka persebaran virus corona patit diacungi jempol. Setelah status darurat dicabut, tempat-tempat umum pun akan dibuka kembali secara bertahap dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Sementara itu, kasus corona di Indonesia per tanggal 25 Mei mencapai 22.750 orang dengan 5.642 sembuh dan jumlah meninggal 1.391 orang. Meski belum ada tanda-tanda penurunan kurva, namun harapan untuk kembali pulih selalu ada. Yuk, bersama-sama melawan virus corna. Tetap tetap semangat! (zhd)

Artikel Asli
Sumber: kumparan

Loading...