CEGAH KLASTER KELUARGA; Terapkan Prokes di Rumah

CEGAH KLASTER KELUARGA; Terapkan Prokes di Rumah

PADANG – Penyebaran Covid-19 pada klaster keluarga meningkat. Bahkan sudah ada 11 ribu anak-anak yang positif terinfeksi virus ini. Fakta tersebut menjadi pengingat pentingnya untuk menjaga lingkaran keluarga tetap aman dari penyebaran virus. Protokol kesehatan bukan hanya harus dilakukan ketika berada di luar rumah, namun juga di dalam rumah.

Loading...

Perihal meningkatnya kasus Covid-19 pada klaster keluarga ini menjadi tema yang dibahas pada acara focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan Harian Singgalang bekerja sama dengan Satgas Covid-19 dan BNPB. FGD bertemakan ‘Klaster Keluarga Meningkat’ Ini dilaksanakan secara virtual, Jumat (20/8).

Swabber dan penyintas, dr. Farhan mengatakan sebenarnya bukan hanya di Sumbar atau di Indonesia saja, tingginya kasus positif Covid-19 yang berasal dari klaster keluarga juga terjadi di negara lain, Salah satunya di New York, Amerika Serikat.

Salah satu studi terkait penyebaran Covid-19 pada negara mencatat 66 persen kasus positif berasal dari klaster keluarga. Hal ini, kata Farhan, menjadi pelajaran bahwa lingkup keluarga sangatlah rentan terhadap penyebaran Covid-19.

“Di Sumbar ini juga terjadi. Anak-anak terutama banyak tertukar dari anggota keluarga. Di Sumbar kasus anak positif Covid-19 sudah ada 11 ribu. Jadi janganlah lagi menyepelekan penyebaran covid 19 di dalam rumah, antar anggota keluarga,” ujarnya.

Dia mengatakan, tiap keluarga memiliki potensi penularan Covid-19 yang berbeda. Beberapa penentunya adalah keadaan rumah, rumah berventilasi buruk atau tidak memiliki sirkulasi udara yang baik akan lebih rentan adanya penularan virus ini. Apalagi jika anggota keluarga ada yang tidak mawas diri di luar rumah, jarang pakai masker dan suka berkumpul-kumpul. Mereka membawa virus tersebut ke rumah dan menularkannya ke anggota keluarga yang lain.

“Jadi kalau tidak benar-benar pentingnya janganlah keluar rumah. Jangan jadi pembunuh anggota keluarga sendiri dengan membawa virus itu pulang,” ujarnya.

Apalagi, tambah dia, tiap anggota keluarga memiliki kondisi tubuh yang berbeda-beda. “Misalnya virus tertularkan pada lansia, nenek kakak di rumah. Apalagi yang memiliki kormobid, ini bisa fatal. Kita yang lebih muda terutama anak muda bisa jadi tertular namun tak bergejala, lalu bisa sembuh sendiri. Nah anggota keluarga yang rentan ini jika tertular bisa jadi dampaknya fatal, terparah adalah kematian,” ujarnya.

Namun, tambah dia, jika memang ada alasan penting yang tak mungkin dihindari dan harus keluar rumah, maka patuhlah melaksanakan protokol kesehatan selama di luar rumah. Ketika telah tiba di rumah pun protokol kesehatan tetap dilaksanakan. “Penting sekali orang-orang yang rentan karena telah beraktivitas di luar rumah untuk menjaga jarak dari anggota keluarga yang lain. Jika perlu gunakan masker di dalam rumah. Mandi dan cuci tangan ketika sampai di rumah. Tak usah ada makan bersama,” ujarnya.

Lingkungan rumah pun haruslah dipastikan meminimalisir penyebaran virus ini. Ventilasi rumah harus baik, sirkulasi udara harus bagus. Orang yang rentan jangan berada di ruangan yang sirkulasi udaranya tidak baik.

“Selain itu selektiflah dalam menerima kunjungan tamu, jika tidak penting sebaiknya silaturahmi cukup melalui telepon seluler atau internet saja,” ujarnya.

Farhan mengatakan upaya untuk menguatkan pertahanan dari virus corona di klaster keluarga adalah bagian dari penguatan hulu dalam penanganaj covid 19. Jika hulu ini tidak dibenahi maka hilir, yakni pengobatan di fasilitas medis akan kewalahan dan bisa jadi tak bisa lagi tertampung. Jika ini terjadi maka keadaan bisa kacau, kasus akan semakin meningkat, korban terdampak berat akan bertambah.

“Jadi marilah kita lindungi keluarga kita masing-masing. Kita yang tahu keadaab diri kita sendiri dan anggota keluarga yang lain, kita harus bisa menjaganya,” ujarnya.

Mudahnya penularan virus corona antar anggota keluarga ini salah satunya terlihat jelas dari pasien-pasien positif Covid-19 yang isolasi di Komplek Nelayan, Padang. Koordinator Kompel Nelayan, Heriandi mengatakan tak sedikit rumah isolasi yang diisi oleh satu keluarga.

“Biasanya kalau orangtuanya diisolasi, nanti beberapa hari kemudian masuk pula anggota keluarga lain untuk juga diisolasi karena telah tertular. Yang anak-anak diisolasi menyusul orangtuanya juga banyak,” ujarnya.

 


Namun menurut dia, di fasilitas tersebut biasanya isolasi untuk pasien tanpa gejala atau dengan gejala ringan saja. Pasien positif Covid-19 dengan gejala sedang dan berat biasanya langsung dirujuk ke rumah sakit.

Dia mengatakan walaupun tidak bergejala atau bergejala ringan, sangat penting sekali untuk isolasi dari anggota keluarga lainnya secepat mungkin. Apalagi jika di rumah tidak memungkinkan mengasingkan diri.

“Misalnya jika ada anak-anak. Kalau orangtua isolasi di rumah belum tentu mereka mengerti. Belum tentu mereka mau untuk tidak dekat-dekat atau menangis meminta ditemani orangtuanya,” paparnya.

Sementara itu, Spesialis Anak, dr Asrawati mengatakan sangat penting sekali untuk para orang dewasa di setiap keluarga melindungi anak-anak dari terinfeksi Covid-19.

“Memang benar anak-anak biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik sehingga jika terinfeksi dampaknya tidak berat atau fatal. Namun jika fatal tentu ini akan menjadi penyesalan besar bagi orang dewasa di keluarga tersebut,” ujarnya.

Perlindungan anak-anak dari Covid-19 menurut dia tak boleh disepelekan. Anak-anak akan menjadi SDM atau generasi penerus. Selain itu jika anak-anak sakit karena terinfeksi Covid-19 tentu saja orangtua pasti terganggu karena anak-anak belum bisa mengurusi diri mereka sendiri.

“Alhasil orangtua tidak bisa pergi bekerja. Jika kasus seperti ini banyak maka tentu akan berdampak pula pada perekonomian daerah,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia mengingatkan agar anak-anak terlindungi. Selain di klaster keluarga, lindungi pula di luar rumah. “Walaupun anak-anak hanya keluar di sekitar rumah, atau di lingkungan pemukiman tempat tinggal, tetaplah wajibkan mereka memakai masker. Upayakan pula mereka tidak sering berkumpul-kumpul,” ujarnya.

Penulis; (rio/rb)

Loading...