Cerita Dokter di Wuhan, Kelelahan hingga Harus Pakai Popok

Cerita Dokter di Wuhan, Kelelahan hingga Harus Pakai Popok

Kelelahan, itulah yang dihadapi petugas medis rumah sakit di Wuhan, China. Mereka harus berurusan dengan ribuan kasus baru virus corona di tengah keterbatasan tenaga medis.

Hingga hari ini, Jumat (14/2), jumlah korban meninggal akibat virus corona di seluruh dunia telah mencapai 1.486 orang.

Sebagian besar korban meninggal adalah penduduk di Provinsi Hubei, tepatnya di Wuhan yang menjadi sumber penyebaran virus corona pertama kali pada Desember 2019.

Dinas Kesehatan Provinsi Hubei menyatakan 116 penduduk mereka meninggal akibat virus corona pada Kamis (13/2) kemarin. Hal itu membuat jumlah penduduk yang meninggal di China menjadi 1.484 orang.

Loading...

Banyak dokter yang disebut terpaksa menangani pasien terduga atau positif corona tanpa menggunakan pelindung seperti masker. 

Tak sedikit pula petugas medis yang harus memakai masker dan alat pelindung yang sama ketika peralatan itu seharusnya diganti secara berkala.

Karena pasien yang membeludak, sebagian dokter dan petugas medis bahkan tak memiliki waktu cukup untuk pergi ke toilet. Pejabat kesehatan China menuturkan sebagian dokter bahkan dikabarkan harus menggunakan popok dewasa agar tak harus meninggalkan pasien mereka ketika ingin ke toilet.

Salah satu dokter di sebuah klinik komunitas di Wuhan mengatakan dia dan setidaknya 16 rekannya baru-baru ini mengidap gejala virus corona termasuk infeksi paru-paru dan batuk.

"Sebagai dokter, kami tidak ingin bekerja selagi menjadi sumber yang bisa menularkan infeksi corona. Tapi saat ini tak ada orang yang bisa menggantikan kami yang sakit. Apa yang akan terjadi jika tidak ada orang yang berada di garis depan untuk merawat pasien," kata dokter itu kepada AFP.

Sejauh ini sudah dua dokter yang meninggal karena virus corona yakni Dokter Li Wenliang dan Dokter Liang Wudong. Li merupakan salah satu wistleblower yang menyebarkan peringatan virus corona ke publik dan sempat menjadi target pihak berwenang Wuhan. Sementara itu, Liang merupakan salah satu dokter yang pertama kali menangani virus corona sejak awal epidemi itu muncul dan menyebar.

Wakil Wali Kota Wuhan mengatakan kotanya kekurangan 56 ribu masker N95 dan 41 ribu baju pelindung setiap harinya.

"Petugas medis yang mengenakan jubah pelindung akan menggunakan popok dewasa, mengurangi banyaknya air yang mereka minum, dan mengurangi waktu mereka untuk pergi ke toilet," kata seorang pejabat tinggi di Komisi Kesehatan Nasional China, Jiao Yahui.

Jiao juga membenarkan bahwa beberapa petugas harus mengenakan jubah pelindung yang sama selama enam hingga sembilan jam. Padahal semestinya jubah itu dipakai tidak lebih dari empat jam di ruang karantina.

Foto: CNN Indonesia/Fajrian

"Tentu kami tidak menyarankan dan membela metode seperti ini tapi petugas medis tak memiliki alternatif lain," kata Jiao.

Meski telah mengimpor 300 juta masker dan 3,9 juta jubah pelindung, China terutama rumah sakit di Wuhan masih kekurangan alat-alat krusial tersebut.

"Bahkan meski kami menerima lebih banyak masker lagi, jumlah pasien terus bertambah lebih cepat lagi," kata seorang dokter di salah satu rumah sakit besar di Wuhan.

Ia menuturkan setiap dokter atau perawat di rumah sakitnya itu hanya memiliki jatah dua sampai empat masker setiap hari.

Selain kekurangan alat pelindung, rumah sakit di Wuhan juga kekurangan dokter dan petugas medis lainnya. Dokter tersebut mengatakan dia dan petugas medis lainnya di rumah sakit itu kelelahan lantaran harus menangani pasien baru di saat yang bersamaan juga merawat pasien lama setiap harinya.

Sebagai contoh, ia menuturkan rekannya di rumah sakit itu menangani 400 pasien dalam delapan jam.

"Banyak dokter yang menangani pasien yang tewas dengan cepat karena tidak mampu menyelamatkannya. Dokter-dokter itu memikul tekanan yang besar," katanya.

Artikel Asli
Sumber: CNN Indonesia

Loading...