Cerita pedagang beras Cipinang yang kini jualan beras bansos

Cerita pedagang beras Cipinang yang kini jualan beras bansos

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Geliat bantuan sosial (bansos) yang digulirkan pemerintah kepada masyarakat selama pandemi Covid-19 mengubah pola bisnis pedagang beras yang ada di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta.

Kini, banyak pedagang beras mulai mengandalkan penjualan bansos untuk menjaga omzet mereka.

Hidayat, salah satu pengusaha beras di PIBC menyebut, pada era pandemi Covid-19 seperti saa ini bila hanya menungu penjualan regular, maka omzet bakal merosot, apalagi gara-gara bansos yang massif saat ini, pembeli beras untuk kebutuhan konsumsi berkurang drastic.

“Orang banyak yang tak beli beras lagi karena sudah dapat bansos,” ujar dia kepada kontan.co.id

Loading...

Untuk itu, masuk akal bila beras bansos dilirik sebagai sumber pemasukan pengusaha beras ini. Lantas, para pengusaha ini berupaya mencari pihak-pihak yang ditunjuk pemerintah untuk melakukan pengadaan beras bansos ini.

Hidayat bilang, mereka biasanya mencari perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki surat perintah dari pemerintah untuk menyediakan beras bansos ini.

Selain pemerintah pusat, pedagang PIBC juga bermitra dengan PD Pasar Jaya selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menyediakan beras bansos ini.

“Kami harus pintar-pintar mencari mitra agar beras bansos ini bisa terjual,” tuturnya.

Tak melulu mencari mitra, dia bilang sejumlah perusahaan datang ke PIBC dan menawarkan untuk memasok bansos kepada beberapa pedagang.

Hanya saja, Hidayat bilang pedagang harus berhati-hati karena kini ramai penipuan oknum yang datang menawarkan kerjasama beras bansos tapi dengan nama pribadi, bukan instansi. Alhasil, pedagang berisiko mengalami kerugian seperti penundaan pembayaran.

Risiko ini jelas ditakutkan oleh pedagang karena para pedagang tak harus memutar kembali uang hasil penjualan beras bansos ini.

Adapun, harga beras bansos di sini dijual mulai dari Rp 10.500 per kilogram (kg), sedangkan volumnenya mereka bisa menyediakan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan pembeli.

Hidayat bercerita, sebelum era pembagian bansos oleh pemerintah, pedagang beras di PIBC menikmati berkah yang luar biasa.

Dia melanjutkan, pada bulan Maret ketika Covid-19 masuk ke Indonesia dan bansos belum keluar, omzet pedagang melesat karena ada pembelian dalam jumlah besar yang disebut panic buying.

“Sebelum pandemi, omzet kami bagus dan di awal pandemi sempat melesat, tapi kini merosot,” ujar dia.

Artikel Asli
Sumber: Kontan.co.id

Loading...