Jejak Virus Corona Eropa di Pasar Beijing

Jejak Virus Corona Eropa di Pasar Beijing

Polisi berjaga di pintu masuk area perumahan bagi pekerja migran di Beijing, China. Foto: REUTERS/Jason Lee

Kehidupan warga Beijing yang mulai bergeliat kembali terusik ancaman COVID-19 menjelang akhir pekan lalu. Padahal baru seminggu Beijing melonggarkan level situasi darurat pandemi corona.

Jumat (12/6) lalu, pemerintah setempat kembali mengumumkan dua transmisi lokal COVID-19. Kasus itu merupakan yang pertama sejak hampir dua bulan Beijing bebas infeksi baru.

Sehari sebelumnya, seorang pria 52 tahun bermarga Tang dirujuk ke Rumah Sakit Dintan di Beijing. Ia didiagnosis positif COVID-19.

Otoritas kesehatan Beijing bergegas melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mencari tahu di mana Tang tertular. Mereka menelusuri lokasi yang dikunjungi Tang 14 hari ke belakang.

Loading...

Dari sejumlah lokasi yang dikunjungi Tang, kecurigaan asal penularan mengerucut ke Pasar Xinfadi di distrik Fengtai, Beijing. Ia berkunjung ke sana 3 Juni lalu.

Seorang polisi mengenakan masker terlihat di pintu masuk pasar grosir Xinfadi yang telah ditutup di Beijing, China, Sabtu (13/6). Foto: REUTERS

Seorang pasien positif lain yang bermarga Liu menunjukkan gejala COVID-19 saat berkunjung ke Qingdao di Provinsi Shandong. Liu rupanya juga sempat ke Pasar Xinfadi pada 5 Juni.

Berbeda dengan Liu, Tang tidak pernah melakukan perjalanan keluar kota. Hal itu menguatkan keyakinan otoritas kesehatan mengenai sumber penularan.

Dalam hitungan 24 jam kemudian, 57 kasus positif COVID-19 terkonfirmasi di seluruh penjuru China. 36 di antaranya merupakan warga Beijing.

Klaster Pasar Xinfadi diduga telah menyebar ke wilayah lain. Di bagian timur Provinsi Zhejiang, satu kasus COVID-19 teridentifikasi. Pasien tersebut merupakan penyuplai bahan makanan ke Xinfadi. Ia dinyatakan terinfeksi virus corona baru setelah kembali ke rumahnya di Wenling.

Reuters melaporkan, kasus-kasus baru muncul di provinsi Hebei, Liaoning, Sichuan, dan Zhejiang. Semuanya diduga terkait Pasar Xinfadi.

Di Beijing saja, seperti dilansir Xinhua, terdapat delapan klaster penularan besar. Pada Rabu (17/6), China mengumumkan 158 kasus COVID-19 di Beijing.

Penyelidikan epidemiologi dan analisis big data menemukan hubungan antara kasus positif COVID-19 yang terjadi beberapa hari ke belakang di China dengan Pasar Xinfadi. Tetapi, para epidemiolog belum berhasil melacak siapa orang pertama yang membawa virus.

"Kami berharap lewat tes laboratorium dan analisis genetik, kita bisa mempelajari rute transmisinya," kata Zhang Yong, Asisten Direktur National Institute for Viral Disease Control and Prevention.

Xinfadi terletak di barat daya Beijing. Pasar seluas 157 kali lapangan sepak bola itu merupakan sentra kulakan terbesar yang menyuplai 90 persen kebutuhan sayur, buah, dan daging untuk Beijing.

Seorang pekerja medis yang memakai pakaian pelindung melakukan uji asam nukleat kepada seorang pekerja di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Foto: China Daily via REUTERS

Sekitar 10 ribu orang hilir mudik di Xinfadi setiap hari. Zhang Yuxi, Kepala Pasar Xinfadi, mengungkapkan bahwa virus teridentifikasi pada sebuah talenan yang digunakan pedagang salmon impor.

Peneliti juga menemukan kesamaan varian genetik virus di Beijing dengan virus yang biasa ditemukan di Eropa. Temuan itu menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya penyebaran virus corona generasi kedua (SARS-CoV-2). Sejumlah jaringan supermarket di China telah menarik salmon dari rak jajaan mereka.

"Belum jelas dari mana virus berasal. Bisa dari makanan laut atau daging yang terkontaminasi atau ditransmisikan oleh orang-orang yang datang ke pasar," ungkap Yang Peng, seorang peneliti, kepada stasiun televisi CCTV.

Tim virolog tiga hari berturut-turut turun ke Xinfadi untuk melakukan investigasi. Mereka mengambil lebih dari 200 sampel. Investigasi tahap pertama difokuskan di lokasi penjualan ikan. Selanjutnya, mereka mengambil sampel di titik radius 2 kilometer dari pasar.

Seorang polisi mengenakan masker terlihat di pintu masuk pasar grosir Xinfadi yang telah ditutup di Beijing, China, Sabtu (13/6). Foto: REUTERS

Hasil keduanya menunjukkan banyak sampel positif terpapar virus corona. Yang terakhir, virologis mengambil sampel dari saluran air. Sampel yang diambil di tahap ketiga itu masih dalam proses uji di laboratorium.

Pengambilan sampel menjadi bagian vital untuk melacak perjalanan virus. Bila virus ditemukan dalam bahan makanan beku dalam kondisi tertutup, misalnya, maka kuat dugaan virus berpindah melalui jalur distribusi makanan beku.

Mike Ryan, Direktur Eksekutif World Health Organization, berhati-hati mengomentari talenan sebagai sumber wabah di Beijing. Baginya, itu baru sebatas hipotesis.

Tetapi, Beijing tidak mau ambil risiko. Selasa lalu, otoritas pengendalian COVID-19 meminta pemerintah setempat memperketat inspeksi bahan makanan impor. Mereka tidak ingin kecolongan "rute transmisi virus yang tidak terpantau."

Kemunculan klaster Pasar Xinfadi berujung pada pencopotan tiga orang pejabat. Beijing mengambil langkah cepat untuk mengendalikan epidemi.

Penduduk yang tinggal atau mengunjungi Pasar Xinfadi antre untuk tes swab di Beijing (16/6). Foto: NOEL CELIS / AFP

Sebanyak 356 ribu orang, termasuk masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi, dites sejak Ahad lalu. 200 ribuan orang yang teridentifikasi pernah berada di Xinfadi beberapa pekan belakangan dihubungi otoritas kesehatan.

Mereka diminta untuk menjalani pemeriksaan. Beijing punya kemampuan mengumpulkan 40 ribu spesimen per hari.

Penularan COVID-19 di Pasar Xinfadi diduga berlangsung sejak Mei lalu. Sinyalemen itu dilontarkan Gao Fu, Direktur Chinese Centre for Disease Control and Prevention.

"Kemungkinan sudah banyak carrier yang tidak bergejala atau bergejala ringan pada saat itu. Itu yang menjelaskan kenapa konsentrasi virus di lingkungan itu begitu tinggi," ungkapnya dalam rapat dengan pejabat kesehatan publik di Shanghai, Selasa lalu.

Menurut Gao Fu, virus SARS-CoV-2 bisa berinkubasi dalam lingkungan yang gelap, lembab, dan kotor. Virus itu kemudian memapar banyak orang dalam periode tersebut.

"Saya berpikir, itulah yang terjadi di Beijing," ia berujar. Namun, ia menegaskan dugaan itu harus diverifikasi lebih lanjut.

Sejumlah warga menyiapkan makanan yang akan dikirim ke kompleks perumahan yang dilockdown, di distrik Fengtai, Beijing, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Selasa (16/6) malam, Beijing kembali meningkatkan level kegawatdaruratan ke level 2 (level 1 merupakan yang tertinggi). Orang-orang dari episentrum penyebaran virus—yang meliputi warga sekitar, pedagang, dan orang dekat pasien terkonfirmasi positif—dilarang keluar Beijing.

21 juta warga Beijing diperintahkan tetap di rumah bila tidak ada keperluan mendesak. 29 kawasan pemukiman juga diisolasi. Suasana di Beijing laiknya situasi perang.

Jalan-jalan dan jalur keluar masuk dijaga petugas. Relawan-relawan dikoordinasi untuk membeli makanan beserta kebutuhan warga Beijing yang terdampak penutupan daerah.

Muncul kekhawatiran Beijing akan menjadi Wuhan kedua. Wuhan, yang terletak di Provinsi Hubei, ialah daerah di China yang pernah mencatatkan jumlah kasus infeksi terbanyak.

Relawan dari tim Blue Sky Rescue mensterilkan seluruh lokasi di Grand Theatre di Wuhan, Hubei. Foto: REUTERS / Aly Song

Dari Hubei pula virus corona jenis baru ini diduga pertama kali menyebar Desember 2019 lalu. Tetapi sejumlah kalangan optimistis Beijing bisa segera melewatinya.

Media milik pemerintah China menekankan, kasus Beijing berbeda dengan Wuhan. Sebab, epidemi terlokalisasi dan sumber penularannya jelas.

Hal itu memungkinkan pemerintah lebih cepat mengendalikan penularan COVID-19. Hu Xi Jin, Pemimpin Redaksi Global Times, yakin dunia akan menyaksikan kemampuan China mengendalikan epidemi.

"Pemerintah punya kepemimpinan yang kuat, respek terhadap sains, kesediaan masyarakat bekerja sama dan berkoordinasi solid ke seluruh negeri. Kami akan menang lagi," katanya di akun Twitter.

***

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona

Artikel Asli
Sumber: kumparan

Loading...