Jokowi Sarankan Pemprov Jatim Tak Buru-buru Terapkan New Normal

Jokowi Sarankan Pemprov Jatim Tak Buru-buru Terapkan New Normal

Presiden Joko Widodo pada Kamis (25/6/2020) pagi, bertolak menuju Jawa Timur. Ini adalah pertama kalinya Jokowi melakukan kunjungan kerja di masa new normal atau tatanan baru pandemi virus corona Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta pemerintah kota dan kabupaten di sana tak buru-buru menerapkan fase kenormalan baru (new normal).

Ia meminta gubernur, bupati, dan wali kota betul-betul mengkaji penerapan fase new normal di wilayah Jawa Timur.

Presiden Jokowi menambahkan, bila kasus Covid-19 di Jawa Timur mereda dalam dua pekan ke depan, harus dilakukan prakondisi terlebih dahulu sebelum menerapkan new normal.

"Apabila ini terkendali dan masuk ke new normal atau masuk ke normal, saya minta juga tahapan-tahapannya diprakondisikan terlebih dahulu. Ada prakondisi untuk menuju ke sana," ujar Presiden saat berkunjung ke Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020).

Loading...

Baca juga: Khofifah: Pak Presiden, Kami Sempat Bahagia Tingkat Penularan Covid-19 Jatim 0,86 Persen, tapi…

"Jangan tahu-tahu langsung dibuka tanpa sebuah prakondisi yang baik," lanjut dia.

Ia pun meminta gubernur, bupati, dan wali kota meninjau sektor mana yang memiliki risiko rendah dan membawa dampak ekonomi yang besar apabila dibuka.

Ia meminta sektor tersebut didahulukan untuk dibuka.

Sedangkan, sektor yang berisiko tinggi dan tidak terlalu berdampak pada perekonomian bisa dikesampingkan untuk dibuka.

Baca juga: 70 Persen Warga Jatim Tak Gunakan Masker, Jokowi: Ini Angka Gede Banget

"Sektor mana dulu yang harus dibuka yang menjadi prioritas. Bukan langsung semuanya langsung. Kita memang harus melalui tahapan-tahapan sehingga tadi saya smpaikan gas dan remnya ini harus pas betul," ujar Presiden Jokowi.

"Sektor yang memiliki risiko rendah tentu saja didahulukan, sektor yang memiliki risiko sedang tentu saja dinomorduakan dan sektor yang memiliki sektor tinggi dinomortigakan atau dinomorempatkan," lanjut dia.

Penulis: Rakhmat Nur HakimEditor: Fabian Januarius Kuwado

Artikel Asli
Sumber: Kompas.com

Loading...