Kopi Sumowono, Awalnya untuk Panti Asuhan Kini Harganya Rp 5 Juta Per Kg

Kopi Sumowono, Awalnya untuk Panti Asuhan Kini Harganya Rp 5 Juta Per Kg

Warga menikmati kopi dari Sumowono Kabupaten Semarang.

UNGARAN, KOMPAS.com - Berawal dari 1904, saat seorang warga Belanda bernama Grass Valk berniat mendirikan panti asuhan di daerah Sumowono, Kabupaten Semarang. Tapi dia melihat ada potensi perkebunan di Sumowono yang bisa dikembangkan, kopi.
Menurut Bambang Suprianto, dari Omahkopi Candisongo, Grass Valk lalu kembali ke Belanda untuk belajar dan melakukan penelitian tentang kopi.

"Dia berpikir dari hasil kopi ini bisa membiayai panti asuhan. Grass Valk pun membangun pabrik di Gambangwaluh yang hingga saat ini sisa-sisa pabriknya masih ada," kata Bambang di sela acara Sumowono Ngopi Bareng di halaman Kantor Kecamatan Sumowono, Kamis (17/10/2019). Saat itu, kopi yang dikembangkan jenis kopi nangka atau liberika.

Baca juga: Benarkah Kopi Liberika Bisa Jadi Obat Perut dan Asam Urat?
Kopi pun menjadi komoditas andalan Sumowono. Perkebunan ada di daerah Gambangwaluh, Pledokan, Candigaron, dan Duren.

Menurut Bambang, khusus wilayah Duren, kopinya sangat khas karena tumbuh di daerah cekung dan mendapat panas matahari secara penuh.
Namun setelah 1987, kopi Sumowono mulai meredup. Penyebabnya, petani beralih menanam sayuran.

Loading...

"Masih ada yang menanam kopi, tapi tak lagi sebergairah sebelumnya. Saat itu sayur menjadi pilihan utama," paparnya.
Bambang mengatakan, kopi Sumowono jenis robusta memiliki keunikan sendiri. Karenanya, pada 2011 dia mendirikan Omahkopi Candisongo sebagai pusat diskusi kelompok tani khusus kopi.

Saat ini, sudah ada tujuh gapoktan yang intens menanam kopi. Dia optimistis kopi Sumowono akan kembali dikenal masyarakat luas.

"Bahkan beberapa waktu belakangan ini ada tamu dari Australia, Belanda, Afrika Selatan, Jerman, dan Amerika Serikat yang meneliti kopi Sumowono," jelasnya.
Baca juga: Di Balik Segelas Kopi Susu yang Terinspirasi Keahlian Barista
Saat ini, kopi Sumowono olaham asalan dihargai Rp 21 ribu per kilogram.

"Kami mencoba inovasi dengan mengolah robusta wine dengan metode fermentasi," jelasnya.
Meski begitu, lanjutnya, primadona kopi Sumowono adalah kopi wulung yang harganya mencapai Rp 5 juta per kilogram.

Mahalnya harga kopi ini karena langka, dalam setiap panen maksimal hanya menghasilkan tiga kilogram.
Sementara, Suharnoto, Camat Sumowono, menyatakan mendukung petani untuk kembali mengangkat potensi kopi Sumowono.

"Kegiatan ngopi bareng ini adalah salah satu cara mengenalkan kopi Sumowono," terangnya.

Dia pun berharap saat ini menjadi momentum kebangkitan kopi Sumowono agar tidak punah.

Penulis: Kontributor Ungaran, Dian Ade PermanaEditor: Khairina

Artikel Asli
Sumber: Kompas.com

Loading...