Love in the Time of Corona

Love in the Time of Corona

Karnaval Venesia di Italia, 24 Februari 2020, sebelum corona mengubah segalanya. Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg

47.021 kasus corona dan 4.032 kematian. Italia mencatatkan rekor kematian corona terbanyak dalam sehari—627 orang—pada Jumat (20/3), dan membawanya memuncaki daftar negara dengan jumlah kematian tertinggi di dunia, mengalahkan China yang merupakan negara asal coronavirus COVID-19.

Pada masa pandemi corona yang menakutkan inilah mimpi soal pernikahan ideal harus dilepas oleh Luca Mariotti dan Tia Setiyani, pasangan Italia-Indonesia yang berencana menikah pada 4 April 2020.

Spanish Steps di Roma. Foto: Shutterstock

Luca menyimpan impian orang Italia pada umumnya: menggelar pesta pernikahan meriah yang dihadiri para kerabat dan sahabat.

Ia dan kekasihnya, Tia, bolak-balik Roma-Treviso sejak 17 Februari untuk mengurus dokumen pernikahan.

Loading...

Mereka sudah punya rencana rapi: melangsungkan akad nikah di Treviso—kota di Veneto di utara Italia yang merupakan kampung halaman Luca; dan menggelar resepsi perkawinan di sebuah pulau dekat Venesia.

Pertengahan Februari itu, coronavirus belum mengganas. Ia sudah menjangkiti utara Italia, namun diyakini bakal cepat tertangani.

Sayangnya, keyakinan itu terlalu prematur.

Februari berganti Maret, dan wabah corona menggila di seantero Italia. Membuat pemerintah Italia mengunci seluruh negara. Istilah populernya: lockdown.

Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte. Foto: AFP/Andreas Solaro

… è la nostra ora più buia, ma ce la faremo—ini masa terkelam kita, tapi kita akan melaluinya,” ujar Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte menukil ucapan Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris periode 1940-1945, saat mengumumkan karantina total atas Italia, Selasa (10/2).

Ia menegaskan tak mau berkompromi dengan keputusan yang ia ambil.

“Tak ada waktu lagi. Kita menghadapi peningkatan signifikan kasus infeksi dan kematian. …. (maka) seluruh Italia akan jadi zona terlindungi. Semua tindakan yang telah diambil di zona merah kini diperluas ke seantero negeri,” kata Conte dalam konferensi pers yang digelar dini hari waktu setempat—pukul 02.00 pagi!

Zona merah yang dimaksud Conte semula hanya mencakup 10 kota di utara Italia yang berada di wilayah Lombardy dan Veneto, termasuk Milan yang jadi pusat finansial dan mode negeri itu, dan Venesia yang dikenal sebagai destinasi wisata favorit warga dunia.

Wilayah utara Italia yang dihuni 16 juta orang itu adalah episentrum corona di Eropa. Dan itu artinya termasuk Treviso yang berada di dalam wilayah Veneto.

Wisatawan mengenakan pakaian pelindung di Karnaval Venesia, Minggu (24/2), saat corona belum menunjukkan taringnya di wilayah itu. Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg

Mulai 10 Maret, wajah Italia berubah drastis. Masyarakat Italia yang gemar berkumpul dan berpesta seolah tercerabut dari tradisinya.

Tak ada lagi acara-acara publik. Festival kebudayaan, konser musik, dan pertandingan olahraga dilarang. Demikian pula prosesi pemakaman, misa di gereja, dan tentu saja: resepsi pernikahan.

Luca dan Tia jelas harus mengubah rencana.

Patung santo pelindung Francis of Assisi di San Fiorano, Lombardy, dipasangi masker. Foto: Marzio Toniolo/via REUTERS

“Kami tidak tahu apa yang bakal terjadi ke depan,” ucap petugas di Kantor Kependudukan Treviso kepada Tia dan Luca.

Ia meminta pasangan itu untuk memangkas daftar tamu dalam akad nikah mereka. Ruangan yang biasanya bisa dihadiri 80 orang, kini dibatasi jumlah tamu undangannya.

Jarak interaksi antar-individu pun diatur minimal satu meter. Kalau berani melanggar, sanksi pindana dan denda menanti.

Luca dan Tia amat paham situasi yang mereka—dan dunia—hadapi.

“Ini bukan pernikahan kami. Ini soal kepentingan semua orang,” kata Luca ketika berbincang dengan kumparan.

Pengendara skuter melintasi jalanan yang sepi di Roma. Foto: REUTERS/Remo Casilli

Jangankan soal pernikahan, perkara sehari-hari saja jadi sulit di Italia.

Otoritas Italia tak main-main soal lockdown. Warga yang keluar rumah harus membawa surat berisi maklumat kepatuhan atas peraturan karantina wilayah yang ditetapkan negara. Selain itu, stiap orang yang melintas di jalan umum bakal diperiksa polisi yang berpatroli.

Hanya dalam kondisi ketat warga boleh keluar rumah, di antaranya berbelanja ke toko/supermarket dan memeriksakan diri ke dokter karena sakit. Untuk pergi ke supermarket pun, tiap keluarga hanya boleh diwakili oleh satu orang.

“Momen paling menyenangkan saat ini adalah pergi ke supermarket,” ujar Luca terkekeh.

Penjaga minimarket di San Fiorano, Lomardy, menggunakan masker. Foto: Marzio Toniolo/via REUTERS

Elia Moneda, seorang warga Italia yang tinggal di Lombardy, sependapat dengan Luca soal pergi ke supermarket.

“Pergi berbelanja artinya juga bisa sedikit berjalan-jalan,” ujarnya kepada Nancy, kekasihnya di Indonesia.

Nancy dan Elia kerap bertukar cerita soal kondisi wabah corona di negara mereka masing-masing. Nancy yang tinggal di Jakarta paham betul, situasinya di Jakarta belum tentu lebih baik dari Elia.

Ia sendiri cemas jangan-jangan telah tertular corona, setidak-tidaknya menjadi carrier. Sebab belakangan, ia merasa tak enak badan.

“Paling tidak kami di Lombardy sering tes (corona) dibanding wilayah-wilayah lain di Italia, sehingga hasilnya bisa lebih cepat diketahui,” kata Elia.

Pusat perbelanjaan Galleria Vittorio Emanuele II di Milan langsung sepi di hari pertama Italia lockdown. Foto: REUTERS/Flavio Lo Scalzo

Lombardy di Italia utara memang relatif lebih makmur ketimbang kawasan selatan negeri itu. Bisa dibilang, wilayah utara adalah mesin perekonomian Italia. Sistem perawatan kesehatan di sana adalah yang terbaik di seantero Italia.

Pun begitu, menurut Kepala Unit Krisis Perawatan Intensif Lombardy Antonio Pesenti kepada surat kabar Corriere Della Sera, sistem perawatan kesehatan di wilayahnya kini berada di ambang kehancuran.

Pasien corona yang membeludak tak sebanding dengan fasilitas kesehatan yang tersedia—dan terbaik sekali pun. Lorong-lorong rumah sakit sampai ikut digunakan untuk merawat pasien.

Sistem perawatan kesehatan universal yang dianut Italia, seperti ditulis The Atlantic, juga ketiban beban tambahan karena harus memberikan jaminan akses kesehatan untuk semua warga Italia tanpa kecuali, termasuk pengangguran tak berduit.

Petugas Palang Merah mengecek kondisi tunawisma di Roma. Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane

Penerapan lockdown artinya juga membuat pemerintah Italia harus menjamin ketersediaan kebutuhan dasar warga seperti listrik, air, dan gas. Dampaknya, Italia diprediksi bakal mengalami krisis ekonomi terparah sejak Perang Dunia II.

Belum lagi, kasus pasien corona di masa lockdown terus bertumbuh, termasuk angka kematian mereka. Ini, salah satu alasannya, karena demografi masyarakat Italia yang dihuni banyak orang tua—kelompok yang paling rentan terhadap corona.

“We better still alive when the plague is over,” kata Nancy.

“Amen,” jawab Elia.

Peserta Karnaval Venesia mengenakan masker, Minggu (24/2) . Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg
Karnaval Venesia sebelum corona mewabah parah. Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg
Artikel Asli
Sumber: kumparan

Loading...