Menyebarkan Gaya Hidup Jadi Relawan

Menyebarkan Gaya Hidup Jadi Relawan

DARI berbagai bencana yang menimpa Indonesia, terlihat pentingnya peran relawan, baik untuk proses evakuasi korban maupun pemulihan komunitas masyarakatnya. Tanpa mereka, korban yang berjatuhan bisa jadi lebih banyak.

Walau keselamatan diri sendiri juga dipertaruhkan, belum lagi kocek yang terkuras, aktivitas menjadi relawan tetap menjadi panggilan hati banyak orang. Di era digital ini pun, tidak sedikit relawan yang menggunakan medsos untuk memasyarakatkan kegiatan dan kepedulian sosial. Dengan begitu, kegiatan kerela­wan­an maupun sosok relawannya menjadi kekinian dan dari situ pula menarik anak muda untuk bergabung.

Salah satu wadah kerelawanan yang cukup populer di Tanah Air ialah Indorelawan. Mereka pun menjadi wadah kegiatan kerelawanan yang kekinian dan juga sesuai kebutuhan karena menjadi jembatan antara para relawan dan organisasi kerelawanan.

Singkatnya, wadah yang berdiri sejak 2012 itu tidak membuat aktivitas kere­lawanan sendiri. Akan tetapi, mereka memberi ruang bagi organisasi-organi­sasi sosial untuk mencari relawan. Sebaliknya pula, orang yang ingin menjadi relawan dapat membuat akun kemudian mencari organisasi relawan yang sesuai dengan minatnya.

Loading...

Saat ini ada 122.689 relawan dan 2.201 organisasi yang mendaftar di  Indorelawan. Di balik gaung Indorelawan yang kian terdengar ialah sosok Marsya Peni Nurmaranti.

Perempuan berusia 29 tahun itu menjadi nakhoda tim operasional dengan menjabat Executive Director. Berkarya di Indorelawan, Marsya menyebut dirinya sebagai pekerja sosial.

Sebelum terjun ke profesi tersebut, sarjana lulusan Universitas Indonesia itu telah menjalani beragam pekerjaan, termasuk menjadi floor director di Bloomberg TV Indonesia. Ia mengaku tertarik banting setir karena sejak awal memang sudah punya minat terhadap upaya membantu anak-anak marginal.

“Awalnya, isu yang saya minati hanya sektor pendidikan dan bagaimana anak-anak jalanan yang termarginalkan bisa tetap mendapatkan pendidikan mata pelajaran dan interaksi sosial seperti anak lain yang memiliki daya,” ujarnya kepada Media Indonesia, Jumat (23/9), di Jakarta.

Setelah bergabung ke Indorelawan pada 2016, wawasannya menjadi terbuka terhadap isu lingkungan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan kesehatan yang seluruhnya juga membutuhkan bantuan peran relawan. Ia pun sepakat dengan misi Indorelawan yang ingin menjadikan kerelawanan menjadi gaya hidup, layaknya aktivitas nongkrong di coffee shop atau olahraga di akhir pekan.

“Kami ingin menjadi relawan itu seperti percakapan sehari-hari. Eh, minggu ini ke mana, saya jadi relawan di sini atau di sana. Jadi, bukan sesuatu yang wah, Anda berhati mulia sekali,” tambahnya.

Melepas sekat sosial

Bergelut lebih dekat dengan relawan, Marsya melihat ada keuntungan besar dengan menjalani peran itu. Imbalan bagi relawan jelas bukan materi, melainkan pelajaran dan pengalaman hidup yang begitu kaya.

Dengan menjadi relawan, anak-anak muda bisa terlepas dari sekat sosial. Mereka akan belajar soal toleransi, empati, persatuan, dan perdamaian lewat berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan. Pelajaran itu tentunya sangat mahal dan jika para relawan dapat mengambil hikmahnya, akan membentuk pribadi dengan sangat baik.  

“Kalau tidak jadi relawan mungkin saya tidak pernah berinteraksi dengan anak jalanan, mendengar keperluan mereka apa. Jadi, ketika menjadi relawan, seperti mengasah, memvalidasi prasangka-prasangka yang ada. Bhinneka Tunggal Ika,” tutur Marsya berkaca pada yang ia alami sendiri.

Lewat Indorelawan pula, ia ingin melepas mitos jika seorang relawan haruslah terlebih dulu mapan atau berduit. Mitos ini yang dirasa Marsya kerap menjadi halangan bagi anak muda.

“Padahal, menjadi relawan tidak harus menunggu kaya. Modal yang utama kemauan untuk membuat perubahan yang lebih baik dengan memberi tenaga dan waktunya untuk beraksi,” tambahnya.

Soal kebutuhan tenaga ketimbang uang dalam dunia kerelawanan sebenarnya memang sudah menjadi sistem kerja di banyak organisasi relawan. Saat ini, tidak sedikit organisasi relawan yang sudah memiliki manajemen yang baik sehingga dapat mendukung kebutuhan transportasi dan makan para relawan. Dengan begitu, para relawan dapat fokus dalam menyalurkan tenaga dan skill.

Berdasarkan data Indorelawan, saat ini sebanyak 60% relawan berusia 18-25 tahun yang masih duduk di bangku kuliah atau baru lulus kuliah. Dari demografi masih didominasi di Pulau Jawa dan 67% merupakan perempuan.

“Yang kami lihat sekarang mungkin anak-anak muda ini mencari kegiatan di luar rutinitas sehari-hari seperti ke kampus. Mereka bergabung di komunitas meluangkan waktu satu-dua jam di akhir pekan,” ujar Marsya.

Untuk menjalankan organisasinya, Indorelawan yang didirikan oleh Widhar­mika Agung, Zaky Prabowo, Retha Dungga, dan Ari Awan menggunakan dana dari para donatur tetap perorangan maupun perusahaan, seperti dari Wardah dan perusahaan konveksi Multi Sandang Tamajaya. Mereka juga menjalankan pengembangan bisnis bekerja sama dengan korporasi untuk mengelola relawan dan kegiatan karyawan. Ruang Volunteer Hub juga disewakan untuk kegiatan sosial komunitas dan perusahaan.

Sementara itu, untuk ruang mencari dan berbagi aktivitas oleh para organisasi di situs web Indorelawan diberikan secara gratis. Cakupannya hanya boleh yang berhubungan dengan sosial.

Untuk menjaga hubungan dengan organisasi dan relawan, sejak Juli 2019, Indorelawan membuat Volunteer Hub sebagai satu tempat untuk berkumpul komunitas dan relawan.

“Dengan ada wadah ruang, hubungan yang sudah terjalin di online itu bisa lebih erat lagi di offline. Bertemu relawan, menghasilkan gagasan, dan kolaborasi lanjutan. Sekaligus kami ingin kegiatan rutin di sini bisa diikuti siapa pun yang mau menjadi relawan. Jadi, mereka bisa mencari kegiatannya langsung di Volunteer Hub,” jelas Marsya. (M-1)

Artikel Asli
Sumber: Media Indonesia

Loading...