Penggandaan Uang, Percaya Dukun hingga Ditukar Bantal dan Keramik

Penggandaan Uang, Percaya Dukun hingga Ditukar Bantal dan Keramik

Ilustrasi uang. (via: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Mendapatkan uang instan dari hasil menggandakan uang nampaknya masih saja dipercaya oleh masyarakat. Padahal, jika ingin mendapat uang, seseorang haruslah berusaha dan bekerja keras.

Sampai saat ini, rupanya masih ada masyarakat percaya soal penggandaan uang. Alhasil mereka malah justru mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Umumnya, yang mengaku sanggup menggandakan uang yakni dukun atau orang pintar. Para orang pintar itu menyasar orang-orang yang sedang terbelit utang.

Namun ternyata, penggandaan uang tersebut hanyalah kedok untuk menipu orang lain. Hati-hati karena banyak penipuan berkedok bisa menggandakan uang.

Loading...

Berikut kasus penipuan dengan modus bisa menggandakan uang yang berhasil dihimpun:

 

Uang Ditukar Bantal dan Keramik

Ilustrasi uang (sumber: iStockphoto)

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera mengatakan, kasus penipuan dengan modus menggandakan uang antarpulau terjadi di Jember, Jawa Timur, tepatnya di Desa Sumber Jati, Sempolan.

Keempat pelaku ini antara lain Rudy Rahmat Nenggolan warga Sibolga, Sumatra Utara, Andriono warga Ambon, Ahmad Firman dari Jember dan Hadri atau Toni dari Jember.

"Dalam kasus ini para pelaku memiliki peran dan tugas yang berbeda-beda," ujar Barung, Rabu, 27 November 2019.

Dia menjelaskan, komplotan tersebut berupaya meyakinkan korbannya dengan mengaku bisa menggandakan uang hingga 10 kali lipat.

Korban yang disasar adalah orang yang tengah terlilit utang. Sebab, orang-orang semacam ini, biasanya cenderung menginginkan jalan pintas.

Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pitra Ratulangi menambahkan, korban yang sudah terpikat mau untuk diarahkan oleh komplotan pelaku. Korban yang diketahui berinisial AL, warga Sibolga Sumatera Utara, diminta mengeluarkan uang untuk digandakan.

Tak tanggung-tanggung, korban pun menyetorkan uang sebesar Rp 650 juta. Uang tersebut lalu ditaruh disebuah koper. Namun, para pelaku menukar koper berisi uang itu secara diam-diam dengan merek dan warna yang sama.

Uniknya, di dalam koper milik para pelaku diisi dengan bantal dan keramik. Pelaku pun meminta korban untuk tidak membuka koper sampai waktu yang telah ditentukan. Namun, karena penasaran, korban nekat membuka koper sebelum waktunya.

Ia pun terkejut, lantaran uangnya yang berjumlah setengah miliar lebih itu sudah berubah menjadi bantal dan keramik.

"Jadi seolah-olah mereka bisa menyulap ya seolah-olah menggandakan uang dan ternyata disulap berubah menjadi keramik," kata Pitra.

Pitra menambahkan keempat tersangka ini memiliki peran yang berbeda. Ada yang mengaku menjadi dukun yang memiliki kemampuan sakti menggandakan uang. Ada yang mencari korban, ada yang menjadi sopir, dan ada pula yang sebagai penukar koper.

Polisi juga mengamankan beberapa barang bukti diantaranya uang tunai sebesar Rp 82.941.000, 8 handphone, kartu ATM, KTP, minyak gaharu, beberapa pusaka, hingga tas dan koper yang digunakan untuk menggandakan uang.

 

Uang Jadi Kertas Kosong

Ilustrasi penukaran uang receh. (via: istimewa)

Sebelum kasus ini terjadi, polisi meringkus dua orang petani yang mengaku bisa menggandakan uang hingga miliaran rupiah di Kota Pekanbaru, Riau. Keduanya warga asal Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Ismail (50) dan Ahmad (32).

"Penangkapan ini berdasarkan laporan korban, ada tiga orang yang melapor tertipu oleh dua dukun palsu ini," ujar Kanit Reskrim Polsek Limapuluh Iptu Abdul Halim, Senin, 3 Desember 2018.

Salah satu korban, Andre Antoni mengaku ditipu oleh Ismail pada pertengahan Oktober 2018 lalu. Korban yang merupakan warga Pekanbaru mengenal kedua tersangka ketika berada di NTB.

Kemudian Andre mengajak tiga temannya, yaitu Rydo Setiawan, Isnaini Herawati dan Helmiyani. Akhirnya uang berhasil terkumpul hingga Rp 149 juta. Uang tersebut diserahkan korban ke Ismail.

Kemudian, Ismail melancarkan aksinya. Dia menyusun strategi dan melakukan sebuah ritual layaknya seorang dukun profesional.

"Pelaku menjanjikan bisa menggandakan uang 4 hingga 5 miliar dari uang yang diserahkan korban sebanyak Rp149 juta," kata Halim.

Agar korbannya percaya, pelaku menggunakan kardus, kain putih dan hitam, botol air mineral, gulungan kertas panjang, plastik berisikan kapur, daun sirih, benang, jarum, pinang dan tisu serta dupa sebagai peralatan untuk ritual.

"Saat ritual berlangsung, uang seolah-olah dimasukkan ke dalam kardus yang ditutup dengan kain putih dan hitam. Kotak itu baru bisa dibuka seminggu setelah ritual," jelas Halim.

Para korban pun langsung pulang usai ritual dilakukan di sebuah hotel. Namun karena penasaran, korban membuka kotak tersebut.

Ternyata isi kotak tersebut adalah kertas biasa. Kemudian uang yang disetor ke pelaku, malah dibagi dua dengan sesama pelaku.

 

Dukun Abal-Abal

Ilustrasi uang tunai | unsplash.com/@bady

Selain itu, ada pula Juhri (54), dukun abal-abal dari Kampung Lontar RT 06 RW 10, Desa Kali Baru, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Ia akhirnya ditangkap karena menipu hingga Rp100 juta. Juhri alias Mbah Gelung mengaku bisa melipatgandakan uang kepada para korbannya.

"Berawal dari laporan korban yang telah merasa tertipu, setelah menyetorkan uang senilai Rp 100 juta kepada pelaku," kata Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Harry Kurniawan, Selasa, 11 Desember 2018.

Pelaku yang bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan di Kabupaten Tangerang itu mengaku terdesak kebutuhan ekonomi hingga akhirnya melakukan penipuan kepada korban.

"Baru kali ini saya melakukan hal ini, karena kebetulan ada yang percaya juga," kata Mbah Gelung.

Harry menjelaskan, ketika itu, korban yang ingin membuka usaha kekurangan modal. Korban tanpa sadar kemudian mendatangi pelaku yang didengar bisa menggandakan uang.

Namun, setelah diminta mengirim uang beberapa kali hingga mencapai Rp100 juta lebih, pelaku sering menghilang.

 

Ritual ala Dukun

Ilustrasi uang (sumber: iStockphoto)

Sementara itu, pada 2017 silam, dengan bermodal tumpukan uang pecahan mainan Rp 100 ribu dan ritual magis, Sugiyono (50), warga Desa Karangsentul Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga melakukan tindak penipuan.

Modus dapat menggandakan uang yang disebutnya karomah, Sugiyono menipu YP, warga Bale Endah Bandung dengan nilai Rp 2,8 miliar.

AKBP Djoko Julianto yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Cilacap menjelaskan, kasus ini terungkap setelah YP membuat laporan ke polisi.

Pada YP, Sugiyono menjanjikan uang yang dimiliki korban bisa dia gandakan. Saat itu, YP memberikan uang Rp 150 juta. Dijanjikan uangnya menjadi Rp 1,8 miliar.

"Pelaku dengan kata-kata manis mempengaruhi korban yang saat itu sedang mengalami masalah keuangan karena usahanya yang lagi bermasalah," kata Djoko, Rabu, 18 Oktober 2017.

Korban pertama kali memberikan uang untuk digandakan di indekos pelaku di Jalan Dr Sutomo, Cilacap. Korban sempat diajak pelaku melakukan ritual menggandakan uang dengan menarik uang karomah. Ritual yang dilakukan menyembelih kambing serta bacaan wiritan yang diajarkan oleh pelaku.

"Untuk meyakinkan, korban sempat diajak ke kamar ritual dan diperlihatkan tumpukan uang pecahan mainan Rp 100 ribu di dalam peti," ucap Djoko.

Setelah korban mentransfer uang hingga total Rp 2,8 miliar, nyatanya uang karomah atau uang hasil penggandaan yang dijanjikan oleh pelaku tidak kunjung datang. Merasa tertipu, korban akhirnya melapor.

Pelaku ditangkap pada hari Senin, 16 Oktober 2017 di sebuah rumah kontrakan di Desa Pucung Kidul, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap.

Di rumah tersebut, ditemukan ruang atau kamar tempat ritual. Ditemukan pula peti terbungkus kain warna putih berisi uang mainan tertata di atas triplek kayu.

 

Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Sumber : Merdeka

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Asli
Sumber: Liputan6.com

Loading...